Kamis, 19 November 2009

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA



myspace generator

 

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA

I. PENDAHULUAN
Salah satu aspek yang penting dalam keperawatan adalah keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan. Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia-sia jika tidak dilanjutkan oleh keluarga. Secara empiris dapat dikatakan bahwa kesehatan anggota keluarga dan kualitas kehidupan keluarga menjadi sangat berhubungan atau signifikan.
Keluarga menempati posisi diantara individu dan masyarakat, sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan yang kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat.Dalam pemberian pelayanan kesehatan perawat harus memperhatikan nilai-nilai dan budaya keluarga sehingga dapat menerima.
II. Definisi keluarga
Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. Berikaut akan dikemukakan beberapa pengertian keluarga.
A. Raisner (1980)
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak dan nenek.
B. Logan’s (1979)
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan daribeberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya.
C. Gillis (1983)
Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri dari beberapa komponen yang masing-masing mempunyai sebagaimana individu.
D. Duvall (1986)
Menguraikan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari setiap anggota keluarga.
E. Bailon dan Maglaya (1978)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka salaing berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
F. Johnson’s (1992)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan lainnya.
G. Spradley dan Allender (1996)
Satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam iterelasi sosial, peran dan tugas.
Dari pengertian tentang keluarga dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah:
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama, atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial: suami, istri, anak, kakak dan adik.
4. mempunyai tujuan;
a. menciptakan dan mempertahankan budaya
b. meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, sosial anggota.
Dari uraian diatas menunjukan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem. Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota yaitu; ayah, ibu dan anak atau semua individu yang tinggal didalam rumah tangga tersebut.anggota keluarga saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya yaitu lingkungannya yaitu masyarakat dan sebaliknya sebagai subsitem dari lingkungan (masyarakat) keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat biopsikososial spiritual. Jadi sangatlah tepat jika keluarga sebagai titik sentral pelayanan keperawatan . Diyakini bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.
III. Tipe keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.
A. Tipe keluarga tradisional
1. The Nuclear family (Keluarga inti) yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri dan anak (kandung atau angkat).
2. The dyad family , suatu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
3. Keluarga usila, Keluarga terdiri dari suami dan istri yang sudah usia lanjut, sedangkan anak sudah memisahkan diri.
4. The childless, Keluarga tanpa anak karena telambat menikah, bisa disebabkan karena mengejar karir atau pendidikan.
5. The Extended family , keluarga yang terdiri dari keluarga inti ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek dan lain-lain.
6. “Single parent” yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak(kandung atau angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian).
7. Commuter family, kedua orang tua bekerja diluar kota, dan bisa berkumpul pada hari minggu atau libur saja.
8. Multigeneration family, Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
9. Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama.
10. Blended family, keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
11. “Single adult living alone” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.
B. Tipe keluarga non tradisional
1. The unmarried teenage mother, Keluarga yang terdiri dari satu orang dewasa terutama ibu dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2. The Step parent family, keluarga dengan orang tua tiri.
3. Commune family, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah.
4. The non marrital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup bersama, berganti-ganti pasangan tanpa nikah.
5. Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan sex tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan suami istri.
6. Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan tertentu.
7. Group marriage family, beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah, berbagi sesuatu termasuk sex dan membesarkan anak.
8. Group network family, beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak.
9. Foster family, keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk waktu sementara.
10. Homeless family, keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental.
11. Gang, Keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal.
Bangaimana di Indonesia ?????
Dalam UU No. 10 1992 disebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anak, atau ayah ibu dan anak. Dalam konteks pembangunan Indonesia bertujuan ingin menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga sejahtera dalam UU tersebut disebut sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah dan mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material, bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, memilihi hubungan yang serasi, selaras dan seimbangn antar anggota dan dengan masyarakat.
IV. Fungsi keluarga
Friedman 1986 mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu:
1. Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilanm elaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi fungsi afektif adalah:
a. Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan kasih sayang dang dukungan dari anggota yang lain maka kemampuannya untuk memberikan kasih sayang akan meningkat yang pada akhiranya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain diliar keluarga atau masyarakat.
b. Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
c. Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tuan harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif tersebut
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.
2. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial (Friedman, 1986)
Sosialisasi dimulai sejak lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan keluarga.
3. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4. Fungsi ekonomi
Funsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga, seperti kebutuhan makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
5. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut (Friedman, 1998
a. Mengenal masalah
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
c. Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit
d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
e. Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.
V. Dimensi dasar struktur keluarga
Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas:
A. Pola dan proses komunikasi
B. Struktur peran
C. Struktur kekuatan
D. Nilai-nilai keluarga
Pola dan proses komuniaksi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi:
1. Bersifat terbuka dan jujur
2. Selalu menyelesaikan konflik keluarga
3. Berpikiran positif
4. Tidak mengulang-ulang isu dan pendapatnya sendiri
Karakteristik komunikasi keluarga yang berfungsi
Karakteristik pengirim:
1. Yakin dalam mengemukakan pendapat
2. Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas
3. Selalu minta maaf dan menerima umpan balik
Karakteristik penerima
1. Siap mendengar
2. Memberikan umpan balik
3. Melakukan validasi
Struktur peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami/istri atau anak.
Struktur kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan (potensial atau aktual) dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah positif.
Tipe struktur kekuatan
1. Legitimate power/authority
Hak untuk mengatur seperti orang tua kepada anak.
2. Referent power
Seseorang yang ditiru
3. Reword Power
Pendapat ahli
4. Coercive power
Dipaksakan sesuai keinginan
5. Informational power
Pengaruh melalui persuasif
6. Affectif power
Pengaruh melalui manipulasi cinta kasih.
Nilai-nilai dalam keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.
Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga.
Budaya adalah kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dubagi dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.
VI. Peran Perawat Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan pada keluarga sebagai unit pelayanan untuk mewujudkan keluarga yang sehat. Fungsi perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan kesehatan keluarga.
Peran perawat dalam melakukan perawatan kesehatan keluarga adalah sebagai berikut:
1. Pendidik
Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar:
a. Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri.
b. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga.
2. Koordinator
Koordinasi diperlaukan pada perawatan agar pelayanan komprehensive dapat dicapai. Koordinasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.
3. Pelaksana
Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga dengan menggunakan metode keperawatan.
4. Pengawas kesehatan
Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan home visite yang teratur untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.
5. Konsultan
Perawat sebagai nara sumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan perawat dan klien harus terbina dengan baik, kemampuan perawat dalam menyampaikan informasi dan kialitas dari informasi yang disampaikan secara terbuka dan dapat dipercaya.
6. Kolaburasi
Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.
7. Fasilitator
Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti rujukan dan penggunaan dana sehat.
8. Penemu kasus
Menemukan dan mengidentifikasi masalah secara dini di masyarakat sehingga menghindarkan dari ledakan kasus atau wabah.
9. Modifikasi lingkungan
Mampu memodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat.


EPIDEMIOLOGY


EPIDEMIOLOGY


A.    PENGERTIAN
Batasan ( menurut Frost(1927), Paul(1938); Mac Mahon & Pugh(1970) dan Omran (1974)
Epi            = pada atau tentang
demos       = rakyat/penduduk
logos         = ilmu
“ ilmu yang mempelajari tentang hal-halyang terjadi pada rakyat”
Epidemiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia/masyarakat serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Epidemiology be defined as the study of the distribution and determinants of diseases and injuries in human population.

Pengertian Pokok Epidemiologi
1.      Frekuensi masalah Kesehatan-> banyaknya masalah kesehatan( kesakitan, kecelakaan dll) pada sekelompok manusia.
2.      Penyebaran masalah kesehatan.pengelompokkan masalah kesehatn menurut keadaan tertentu,
3.      Person(manusia) ; Place(tempat) dan Time(waktu).
4.      Faktor-Faktor Yang mempengaruhi : Faktor penyebab suatu maslah kesehatan, baik yang menerangkan frekuensi, penyebarannya maupun penyebab timbulnya masalah kesehatan.

B.     RUANG LINGKUP EPIDEMIOLOGI
  1. Subjek dan objek epidemiologi : masalah kesehatan ( p.menular,p.tdk menular, kecelakaan, bencana alam dsb).
  2. Masalah kesehatan yang ditemukan pada sekelompok manusia.( bedakan dengan ilmu kedokteran klinik).
  3. Dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan dimanfaatkan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan tesebut ->Metode Lit epid-> penyebab msl dan timbulnya masalah kesehatan.

C.    PERANAN DAN MANFAAT EPIDEMIOLOGI
  1. Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan ->POAC masalah Kesehatan
  2. Dapat menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan -> langkah penanggulangan( preventif dan kuratif).
  3. Dapat menerangkan perkembangan alamaiah suatu penyakit -> guna menghentikan perjalanan penyakit supaya dapat dicegah efek berkelanjutan.
  4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan menurut PPT.
Ø  Epidemi -> msl kesehatan(penyakit) pada daerah ttt, waktu singkat frekuensi meningkat.
Ø  Pandemi -> epidemi + penyebarannya meluas.
Ø  Endemi -> keadaan dimana masalah kesehatan frekuensinya pada suatu wilayah ttt menetap dlm waktu lama.
Ø  sporadik : Maslah kesehatan pada wil ttt -> frekuensi berubah-ubah menurut perubahan waktu.
Ø  Wabah : kejadian berjangkitnya suatu penyakit dalam masyarakat dengan jumlah penderita meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu, serta dapat menimbulkan malapetaka.

D.    KONSEP PENYAKIT
1.      Penyakit adalah suatu manifestasi dari timbulnya gangguan dan atau kelainan pada diri seseorang yang sehat.
2.      Timbulnya gangguan/kelainan dikemukakan oleh Gordon dan Le Richt(1950) yang menitikberatkan dari sudut ekologi.timbulnya penyakit dipengaruhi 3 faktor:
Ø  Pejamu(host): diri manusia yang mempengaruhi
Ø  Agent(bibit penyakit) : substansi atau elemen kehadirannya atau ketidakhadirannya dapat menyebabkan atau menggerakkan timbulnya penyakit.
Ø  Environment(lingkungan) adalah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perekambanagn suatu organisme.


Pejamu (Host) : hal-hal yang berkaitan dengan terjadinya penyakit pada manusia, antara lain :
  1. Umur, jenis kelamin, ras, kelompok etmik (suku) hubungan keluarga
  2. Bentuk anatomis tubuh
  3. Fungsi fisiologis atau faal tubuh
  4. Status kesehatan, termasuk status gizi
  5. Keadaan kuantitas dan respon monitors
  6. Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial
  7. Pekerjaan, dll. (Heru subari,dkk,2004.Manajemen epidemiologi,Media presindo,Yogyakarta. Hal.15-16)

Unsur pejamu secara umum dapat dibagi dalam doa kelompok yaitu :
1.    Manusia sebagai makhluk biologis memiliki sekat biologis tertentu seperti
o   Umur, jenis kelamin, ras dan keturunan
o   Bentuk anatomis tubuh serta
2.    Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai berbagai sifat khusus seperti
·         Kelompok etnik termasuk adat, kebiasaan, agama dan hubungan keluarga sehubungan sosial kemasyarakatan.
·         Kebiasaan hidup dan kehidupan sosial sehari-hari termasuk kebiasaan hidup sehat. (Nur nasry noor,2002.Epidemiologi.Universitas Hasanuddin.Makassar.Hal.27)
pada dasarnya, tidak satu pun penyakit yang dapat timbul hanya di sebabkan oleh satu faktor tunggal semata, pada umumnya kejadian penyakit di sebabkan oleh berbagai unsur yang secara bersama-sama mendorong terjadinya penyakit, namun demikian, secara dasar, unsur penyebab penyakit dapat di bagi dalam dua bagian utama yakni :
1.      Penyebab kausal primer, dan
2.      Penyebab kausal sekunder.

Hubungan Host Agent Environment
( The Epidemiologi Triangle)
1.      Sehat : Kedudukan Host, Agent dan Environment seimbang
2.      Sakit, bila
Ø  Agent meningkat
Ø  Daya tahan tubuh menurun
Ø  Lingkungan berubah

Konsep penyakit (jaring-jaring sebab-akibat)
Ø  Timbulnya penyakit dicegah dengan memtong mata rantai sebab akibat
Ø  Penyakit tdk bergantung pada satu sebab berdiri sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian sebab-akibat roda( wheel) hubungan manusia-lingkungan tetapi tidak menekankan agent l

Hubungan antara derajat keterpaparan dengan kondisi kerentanan dalam proses terjadinya penyakit

KONDISI KETERPAPARAN

KEADAAN KEKEBALAN
RENTAN
KEBAL
POSITIF
SAKIT
TIDAK SAKIT
NEGATIF
TIDAK SAKIT
TIDAK SAKIT

Dengan memperhatikan gambar di atas maka jelas baik kita bahwa, seorang dapat menjadi sakit apabila orang tersebut mengalami keterpaparan terhadap unsur penyebab tertentu. (primer maupun sekunder) dan dilain pihak orang tersebut sekaligus berada pada tingkat kerentangan tertentu. Kedua faktor keterpaparan dan kerentangan sangat dipengaruhi pula oleh berbagai unsur terutama unsur lingkungan dan unsur pejamu. Oleh sebab itu, dalam epidemiologi terapan, keadaan ini harus betul-betul disadari, terutama tingkat kuanlitas maupun kualitas/derajat serta sifat dan bentuk dari unsur yang menimbulkan keterpaparan. (Nur nasry noor,2000.Dasar epidemiologi,Rineka cipta,Jakarta.)
Kejadian penyakit, tidak terkecuali penyakit akibat (mendadak) mempunyai masa perlangsungan tersendiri. Bagaimanapun mendadaknya, perlu waktu, yang memang mungkin singkat, untuk tercetusnya suatu penyakit. Dalam mengetahui keberadaan (diagnosis) penyakit, diperlukan perhatian dan perhitungan terhadap faktor waktu perlangsungan penyakit. Untuk setiap penyakit, diinginkan untuk melakukan diagnosis benar, tepat waktu ataupun secepatnya.
Untuk membuat diagnosis, salah satu hal yang perlu diketahui adalah riwayat alamiah penyakit (natural history of disease). Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit itu tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara alamiah (Fletcher,22) (Bustam,2006,Pengantar epidemiologi,Rinika cipta,Jakarta.)

E.     RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
The Naural History of Disease
Ada 5 tahapan Perkembangan Suatu Penyakit
1.      Tahap Prepatogenesis (tahap sebelum sakit) Interaksi Host, agent dan environment.
2.      Tahap inkubasi. :Bibit penyakit masuk kedalam tubuh kemudian timbul gejala penyakit(masa inkubasi penyakit tidak sama) Bila daya tahan tubuh kuat perkembangan penyakit lambat sampai timbulnya penyakit.
3.      Tahap Penyakit Dini. : Dihitung mulai munculnya gejala penyakit sampai orang telah jatuh sakit_> ringan berobat jalan.
4.      Tahap Penyakit Lanjut : Penderita tidak dapat melakukan pekerjaan apapun-> perlu perawatn lebih baik di rumah sakit, tergantung macam penyakit.
5.      Tahap akhir Penyakit
Ø  Sembuh sempurna.>> fungsi dan bentuk tubuh kembali pada sebelum sakit.
Ø  Sembuh cacat.
Ø  Carier
Ø  Khronis
Ø  Meninggal


F.     PENCEGAHAN PENYAKIT
Tindakan lebih dahulu sebelum kejadian yang didasarkan pada keterangan bersumber hasil analisis epidemiologi.
Tingkat pencegahan:
1. Primary Prevention -> target orang sehat.
a. Health promotion
b. Specific protection
2. Secondary Prevention-> baru terkena penyakit.
Early diagnosis & Prompt Treatment.
3.      Tertiary Prevention _> penderita penyakit tertentu
Disability limitation & rehabilitation

PROGRAM PENCEGAHAN
Pada Tingkat I
1.         Mengurangi penyebab peranan
Ø  desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi
Ø  karantina,
Ø  mengurangi sumber allergen/ toksin /fisika
Ø  mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar risk.
2.         Mengatasi/memodifikasi lingkungan
Ø  perbaikan fisik: air minum, sanitasi lingkungan
Ø  perbaikan biologis: PSN, pembrantasan vector penyk
Ø  perbaikan sosial : kpdtn rumah, hub sosial.
3.         Meningkatkan daya tahan host
Ø  perbaikan gizi, imunisasi; ketahanan fisik OR, psikologis.


Pada Tingkat II -> penderita/terancam akan menderita agar penyakit tdk meluas/menghentikan proses penyakit lebih lanjut :
1.      Pemberian chemoprophylaxis : Prepathogenesis.
2.      Pencarian penderita secara dini dan aktif.
Ø  pemeriksaan berkala.
Ø  Screening (pencarian penderita secara umum untuk penyakit tertentu)
Ø  pengobatan/perawatan pasien tertentu

Pada Tingkat III -> mencegah cacat, kematian penyebab tertentu dan rehabilitasi
Ø  pengobatan perawatan penderita kencing manis, tek.darah tinggi, saraf dan lain-lain
Ø  rehabilitasi fisik/medis
Ø  rehabilitasi mental/psycho
Ø  rehabilitasi social

G.    PENELITIAN EPIDEMIOLOGI JANGKAUAN DAN KEGIATAN EPIDEMIOLOGI
DISAIN PENELITIAN

STUDI OBSERVASIONAL
1.      Tidak dilakukan intervensi pada faktor-faktor yang diteliti
2.      Studi deskriptp : bila belum diketahui riwayat alamiah, kejadian atau faktor-faktor yang mempengaruhi suatu masalah kesehatan.
3.      Tujuan : memperkirakan frekuensi suatu masalah kesehatan atau kecenderungan menurut waktu, menentukan karakteristik individu menurut ciri tertentu.
4.      Hasil kegiatan epidemiologi deskriptif hanya menjawab pertanyaan who, where, when timbulnya masalah kesehatan tetapi tdk menjawab pertanyaan mengapa(why) timbulnya masalah kesehatan
Contoh :
Mengetahui data ttg frekuensi penderita TBC di daerah X?
Mengetahui penyebaran penyakit TBC menurut umur, jns kelamin di daerah X?

DESKRIPTIF
VARIABEL EPID DESKRIPTIF

1.      ORANG(PERSON) : Umur, jenis kelamin, kelas sosial, jns pek, penghasilan, gol etnik, status perkawinan, besarnya klg, struktur klg, paritas, dan lain-lain.
2.      TEMPAT (PLACE) : Geografis, administratif.
3.      WAKTU (TIME)-> perubahan2 penyakit mnrt waktu -> perubahan etiologis.
Ø  perubahan jangka pendek : jam,hari,minggu,bulan.
Ø  perubahan scr siklis : perubahan berulang-ulang, hr, bln(musiman), tahunan, bbrp tahun
Ø  perubahan sekuler (sculer trends) : dalam periode yang panjang, bertahun-tahun, berpuluh puluh tahun.



STUDI ANALITIK
Ø Bila cukup banyak diketahui mengenai suatu masalah kesehatan
Ø Hipotesis spesifik dapat diuji.
Ø Tujuan : mengidentifikasi faktor resiko yang mempengaruhi masalah kesehatan/penyakit, memperkirakan akibatnya terhadap masalah tersebut dan memberikan rekomendasi mengenai strategi intervensi yang mungkin dilakukan.
Ø Hasil : asosiasi/hub.sebab-akibat >tegas & nyata.
Ø Kekurangan : lebih mahal dan lebih rumit.

PENELITIAN SURVEI
1.      Survei hanya mencakup sampel dari populasi.(sensus : seluruh)
2.      Sering disebut sampel survei.
3.      Unit analisis : individu atau agregatnya (>1)
4.      Tujuan : - mengetahui karakteristik populasi, menjelaskan kejadian yg terjadi di pop,melakukan eksplorasi hal yg belum jelas


DESAIN SURVEI
1.      Cross-sectional ( suatu waktu tertentu)
2.       Longitudinal : data dikumpulkan pada beberapa waktu berbeda, untuk melihat perubahan yang terjadi.
Ø  studi kecenderungan( sampel mewakili populasi yang sama).
Ø  studi kohort(populasi yang sama)
Ø  studi panel ( responden sama)

STUDI CROSS SECTIONAL
STUDI PREVALENSI
Ø  Pengamatan hanya sekali
Ø  Informasi faktor resiko dan “outcome” diperoleh dari wawancara/catatan medik, diukur bersamaan dan biasanya telah terjadi.
Ø  Sampel dipilih mewakili populasi
Ø  Dapat menilai hubungan asosiasi antara faktor resiko dengan “outcome” pada saat bersamaan -> studi analitik,

KELEBIHAN :
Ø Sampel dipilih secara random dari populasi
Ø Tidak ada “ drop out”
Ø Sekaligus dapat meneliti banyak variable
Ø Dasar bagi penelitian selanjutnya
Ø Waktu pelaksanaan singkat, biaya relatif murah.

KEKURANGAN
Ø Sulit membedakan variabel penyebab dengan variabel akibat, karena tidak diketahui mana yang terjadi lebih dahulu.
Ø Lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit panjang.
Ø Perlu subyek penelitian banyak
Ø Tidak bisa menggambarkan perjalanan penyakit
Ø Tidak praktis untuk kasus yang jarang.

STUDI KASUS KONTROL
1.      Kasus = kelompok dng “outcome”/penyakit.
2.      Kontrol = kelompok yang tidak dengan “outcome”/penyakit tertentu.
3.      Studi epidemiologik analitik observasional.
4.      Tujuan : menerangkan hubungan antara penyakit dan faktor resiko.
5.      Kasus ditentukan dalam suatu periode waktu.
6.      Paparan terhadap faktor resiko dimasa lalu diteliti retrospektif.
7.      Faktorbresiko dibandingkan untuk mencari perbedaan yang bermakna
8.      Kontrol dipilih dengan cara serasi(matching) atau tanpa matching.
9.      Kelebihan :
Ø  Untuk meneliti kasus yang jarang atau masa latennya panjang.
Ø  Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
Ø  Biaya relatif lebih sedikit.
Ø  Subyek penelitian lebih sedikit.
Ø  Memungkinkan identifikasi berbagai faktor resiko sekaligus.
10.  Kekurangan
Ø  Data berdasarkan daya ingat atau catatan medik.
Ø  Validasi informasi sulit diperoleh
Ø  Tidak dapat memberikan Incidens rate
Ø  Karena kasus dan kontrol dipilih peneliti, sulit untuk menentukan kedua kelompok tersebut sebanding dalam faktor eksternal dan sumber bias yang lain.

STUDI KOHORT
Ø  Tujuan : mengkaji hubungan antara faktor resiko dengan “out come”/penyakit
Ø  Minimal ada dua kelompok yang diteliti : Kel. terpajan dan kelompok tidak terpajan.
Ø  Pengelompokan tidak dilakukan secara acak.
Ø  Kedua kelompok diikuti selama periode tertentu untuk menentukan “out come”
Ø  Resiko terjadinya masalah pada kedua kelompok akan dibandingkan untuk melihat ada/tidaknya perbedaan

JENIS-JENIS STUDY KOHORT
Ø  Studi Kohort prospektif dengan kelompok pembanding internal
Ø  Studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal
Ø  Studi kohort retrospektif

KELEBIHAN:
Ø  Disain terbaik untuk menentukan insidens dan perjalanan penyakit.
Ø  Menerangkan hubungan faktor risiko & outcome secara temporal dengan baik.
Ø  Pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif
Ø  Dapat meneliti beberapa efek sekaligus dari faktor resiko tertentu.
Ø  Pengamatan kontinu & longitudinal, kekuatan penelitian andal.

KELEMAHAN
Ø Waktu lama, rumit, biaya mahal.
Ø Kurang efisien untuk kasus yang jarang terjadi
Ø Ancaman drop out atau perubahan intensitas pajanan tinggi.
Ø Dapat menimbulkan masalah etik ( membiarkan subyek terkena panajan)

STUDI EKSPERIMEN
1.      Peneliti secara acak menentukan alokasi individu ke dalam kelompok studi berdasarkan paparan yang direncanakan.
2.      Responden secara acak ditempatkan pada salah satu kelompok dan kedua kelompok diikuti hingga paparan terlihat

UKURAN FREKUENSI PENYAKIT
BATASAN
Keterangan tentang banyaknya suatu masalah kesehatan yang ditemukan dalam kelompok manusia yang dinyatakan angka mutlak, rate, ratio dan proporsi.
Dalam melakukan pengukuran perlu diperhatikan :
a.       Mengupayakan agar masalah kesehatan yang akan diukur hanyalah masalah yang dimaksudkan saja.
b.      Mengupayakan agar misal kesehatan yang akan diukur dapat masuk dalam pengukuran.
c. Pengujian hasil pengukuran dalam bentuk yang memberikan keterangan optimal. penilaian suatu program kesehatan diharapkan dapat memberikan informnasi jelas,akurat dan mudah dimengerti

RATE, RATIO DAN PROPORSI
1.      RATE -> frekuensi kmk munculnya suatu kejadian pada sekelompok masyarakat.
Perbandingan suatu peristiwa/event dibagi jumlah penduduk yang mungkin terkena peristiwa dimaksud(population at risk) dalam waktu sama (dalam %,%o)
2.      RATIO : Perbandingan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya yang tidak berhubungan.
Ratio = x/y
Contoh :
Sex ratio = jumlah penduduk laki2 / jumlah penduduk wanita
3.      Proporsi laki (%) = Jumlah penduduk laki2 / jumlah penduduk laki2 &wanita X 100 %
Proporsi mirip rate = a / a +b x 100 %





UKURAN MASALAH KESEHATAN
PENYAKIT
1.    Insidens rate
2.    attack rate
3.    Scondary attack rate.
4.    Prevalens rate :
* period prevalens rate
* point prevalens rate

KEMATIAN :
1. Crude Death Rate
2. Infant Mortality Rate
3. Maternal Mortality Rate
4. Case Fatality Rate, dll

Insidens Rate
Ø  Insiden ialah gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu ttt di suatu kelompok masyarakat.
Contoh :
Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1 Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap penyakit Diare ditemukan laporan penderita baru sebagai berikut : bulan januari 50 orang, Maret 100 orang, Juni 150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang
IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %



Attack Rate
Ø  Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama dalam %, permil.
Ø  Contoh
Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber setelah makan nasi bungkus di kantin sekolah.
Attack rate = 100 / 500 X 100% = 20 %
Ø  AR hanya dignkan pd kel.masy terbatas, periode terbts, mis KLB.

Secondary Attack Rate
Ø  Jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi yang telah terkena pada serangan pertama dalam (%) atau ‰
Ø  Contoh :
Jumlah Penduduk 1000 orang, dilaporkan sbb : Bulan April 2005 terjangkit penyakit X sebanyak 150 penderita.Bulan Agustus 2005 terjadi serangan penyakit yang sama dengan penderita 250 orang
Secondary Attack rate = 250/1000-150 X 100 % = 29,41 %
Prevalen
Ø  Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu.
Ø  Ada dua Prevalen:
A.    Period Prevalence
Contoh :
Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000 orang, dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama dan 100 kasus baru. Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus lama dan 75 kasus baru; Sept 50 kasus lama dan 50 kasus baru dan Des. 200 kasus lama dan 200 kasus baru.
Period Prevalens rate :
(50+100) +(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X 100 % = 0,9 %


B.     Point Prevalence Rate:-> Prevalence Rate saja.
Jumlah penderita lama dan baru pada satu saat, dibagi dengan jumlah penduduk saat itu dalam persen/permil.
Contoh Satu sekolah dengan murid 100 orang, kemarin 5 orang menderita penyakit campak, dan hari ini 5 orang lainnya menderita penyakit campak
Point Prevalence rate = 10/100 x 1000 ‰= 100 ‰

Hubungan antara Prevalence dan Incidence
1.      Hubungan antara Prevalence(P) dan Incidence(I) adalah P ~ I x D yang berarti bahwa prevalence berubah menurut incidence dan lamanya sakit D(duration)
2.      Apabila incidence dan lamanya sakit stabil selama waktu yang panjang formula ini dituliskan
P= I x D.
3.      Jadi apabila prevalence dan lamanya sakit diketahui maka dapatlah dihitung incidence.
Syarat :
Ø  Nilai Incidence dalam waktu lama konstans
Ø  Lama berlangsungnya suatu penyakit stabil.
Angka Kematian
1.      Crude Death Rate: Jum kematian / Jumlah penduduk
2.      Caused Specific Death Rate:
Contoh : Dikota X jumlah penduduk 200.000 jiwa, terjadi kematian 1500 orang selama th 1985, diantaranya ada 25 org keracunan pestisida ? Hitung CDR dan CSDR pestisida?
CDR = 1500/200.000 = 7.5‰
CSDR= pestisida= 25/200.000 = 12.5 /100.000 penduduk
3.      Infant Mortality Rate
Jumlah kematian bayi(0-12 bln) / Jumlah kelahiran hidup x 100 %
4.      Case Fatality Rate(CFR):
Jumlah kematian karena penyakit X / Jumlah seluruh penderita penyakit X X 100 %
Contoh :
Didaerah X dlm 1 tahun terdapat kasus penyakit Radang Paru
500 orang yang meninggal 300 orang?à CFR?
CFR = 300/500 x 100 %= 60 %
Angka ini menunjukkan keganasan penyakit.
Contoh kasus Flu burung positif 65 orang, yg meninggal 54 orang
Hitung CFR flu burung ?
54 / 65 X 100 % = 83 %



DAFTAR PUSTAKA


1.      Gay, J.M. (2005). Epidemiology Concepts for Disease in Animal Groups. College of Veterinary
2.      Medicine, Washington State University. http://www.vetmed.wsu.edu/coursesjmgay/
3.      EpiMod2.htm.
4.      Martin, S.W. (1990). Concepts of Epidemiology and Its Role in Health Management. In:
5.      Kennedy, D. (Editor). Epidemiological Skills in Animal Health. Refresher Course for
6.      Veterinarians. Proceedings 143. Post Graduate Committee in Veterinary Science,
7.      University of Sydney, Sydney, Australia. pp. 19-25.
8.      Martin, S.W., Meek, A.H. and Willeberg, P. (1987). Veterinary Epidemiology. Iowa State
9.      University Press, Ames, Iowa, U.S.A.
10.  Pfeiffer, D.U. (2002). Veterinary Epidemiology – An Introduction. Epidemiology Division,
11.  Department of Veterinary Clinical Sciences, The Royal Veterinary College, University of
12.  London, UK.
13.  Stevenson, M. (2005). An Introduction to Veterinary Epidemiology. EpiCentre, IVABS, Massey
14.  University, New Zealand.
15.  Thrushfield, M. (1995) Veterinary Epidemiology. 2nd Edition. Blackwell Science, Oxford,
16.  England.